Pulau Penyengat Inderasakti

 

Dizaman pemerintah Sultan Mahmud Syah (1761-1812 M), ketika beliau menikah  dengan Engku putri binti Raja Haji Syahid Fisabilillah sekitar tahun 1801 M, pulau ini diserahkan kepada permaisurinyasebagai mahar atau maskawinnya. Karena peranan pulau penyengat seangat penting didalam kesejarahan Kerajaan Riau itulah, pulau penyengat ini menjadi terkenal dan menarik minat orang untuk berkunjung.

Menurut cerita, pulau kecil di Kepulauan Riau ini sudah lama dikenal para pelaut sejak berabad-abad yang lalu karena menjadi tempat persinggahan untuk mengambil air tawar yang cukup banyak tersedia dipulau itu. Menurut legenda lebih lanjut, nama “penyengat” diberikan kepada pulau itu, karena pernah pelaut-pelaut yang sedang mengambil air bersih ditempat itu diserang oleh semacam lebah (insect) yang dipanggil “penyengat” hingga menimbulkan korban. Sejak peristiwa itu pulau tersebut terkenal  di kalangan pelaut dan nelayan dengan sebutan “Pulau Penyengat”. Pada saat pusat pemerintahan Kerajaan Riau bertempat di pulau itu, ia diresmikan dengan nama “Pulau Penyengat Indera Sakti”.

Baca lebih lanjut

Iklan

Pulau Iyu Kecil

Pulau Iyu Kecil merupakan pulau – pulau kecil terluar di Provinsi Kepulauan Riau. Kondisi fisik pulau berbukit dan berbatu, luas ± 0,5 hektar, vegetasi yang tumbuh di pulau ini adalah kelapa, pandan, ketapang, pandan, dan waru. Sumberdaya ikan yang terdapat pada perairan sekitar pulau terdiri dari jenis-jenis ikan Kurau, Kerapu, Manyung, selar, tenggiri dan kakap. Pada pulau ini telah berdiri sarana mercusuar setinggi ± 18 m.

Permasalahan yang terdapat pada pulau ini adalah : terjadinya abrasi pantai akibat penambangan pasir, rendahnya akses menuju pulau dan rawan terjadinya ilegal fishing dan penyelundupan.

 

 

 

 
 

 

MANUSIA PRAGMATIS

Di tengah semakin luasnya wilayah permasalahan rakyat dan umat yang sangat kompleks, maka pandangan manusia yang diharapkan menentukan kehidupan sangat diperlukan dalam mengolah kepentingan, aspirasi dan dinamika kehidupan masyarakat yang mosaik masalahnya begitu ruwet. Dalam hal ini,pandangan manusia pragmatis yang positivistik dapat menawarkan gagasan serta memiliki komitmen moral yang sangat kuat untuk melibatkan diri dalam merespons berbagai persoalan yang dihadapi oleh rakyat dan negara dengan tetap berpegang prinsip dan sikap yang sifatnya terbuka, kritis, objektif, kreatif, dan analitis. Terlebih dahulu kita perlu bertanya apa yang dimaksud dengan pandangan pragmatis yang positivistik itu. Baca lebih lanjut

Data Perikanan Provinsi Kepri Tahun 2007

 

1.1

 

Luas Usaha Budidaya Perikanan Menurut Jenis Budidaya

Tabel

:

dan Kabupaten/Kota di Kepulauan Riau Tahun 2007/

Table

Fishery Cultivation Area by Type of Cultivation and

 

 

 

Regency/Municipality in Kepulauan Riau, 2007

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Budidaya / Cultivation

 

 

 

 

 

Laut

Payau

Tawar

 

Kabupaten/Kota

Unit

Ha

Ha

 

Regency/Municipality

Marine

Brackish

Fresh Water

 

 

 

 

 

 

water pond

pond

 

1

2

3

4

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1. Karimun

 

 

567,00

28,57

 

2. Bintan

 

 

242,00

120,00

60,30

 

3. Natuna

 

 

4.595,00

33,11

 

4. Lingga

 

 

75,00

 

5. Batam

 

 

1.770,00

6,60

 

6. Tanjungpinang

1.185,00

12.630,00

 

Jumlah/Total

8.434,00

153,11

12.725,47

 

 

 

Baca lebih lanjut

Sang Nelayan

Kulit yang legam

lengan yang melepuh

Keringat yang asin

Matahari yang membakar

 

Mematah arang menuju ombak yang bergulung

dilepas kerinduan dan penantian

 

Sang Nelayan…

Setiap kayuhmu berdiri istana

Setiap langkahmu terbentang jalan

 

namun,..

kayuhmu, langkahmu, penghidupanmu, anakmu, istrimu,

dan mu, mu yang lainnya.

tetaplah nelayan

Peta Wilayah Kepulauan Riau

Provinsi Kepulauan Riau terbentuk berdasarkan Undang-Undang No. 25 Tahun 2002 dan pemerintahannya baru efektif berjalan sejak 1 Juli 2004 meliputi 4 ( empat ) Kabupaten dan 2 ( dua ) Kota yakni Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna dan Kabupaten Lingga serta Kota Tanjungpinang dan Kota Batam. Secara geografis Provinsi ini terletak pada posisi yang strategis yaitu berada pada dua jalur pelayaran internasional yang menghubungkan Samudera Hindia dan Laut Cina Selatan melalui Selat Malaka dan Selat Karimata dan berbatasan langsung dengan negara Singapura, Malaysia dan Thailand.

Provinsi ini merupakan salah satu dari 33 Provinsi di Indonesia yang memiliki letak geografis yang sangat strategis. Letak wilayah yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia, Singapura, Vietnam dan Thailand yang merupakan salah satu kawasan pertumbuhan ekonomi di dunia telah memberikan keunggulan komperatif terhadap perkembangan Provinsi Kepulauan Riau. Posisi Provinsi Kepulauan Riau juga menjadi semakin penting karena berada di jalur perdagangan international yaitu Selat Malaka. Baca lebih lanjut

Suku Laut dan Sejarah

Suku Laut atau sering juga disebut Orang Laut adalah suku bangsa yang menghuni Kepulauan Riau, Indonesia. Secara lebih luas istilah Orang Laut mencakup “berbagai suku dan kelompok yang bermukim di pulau-pulau dan muara sungai di Kepulauan Riau-Lingga, Pulau Tujuh, Kepulauan Batam, dan pesisir dan pulau-pulau di lepas pantai Sumatera Timur dan Semenanjung Malaya bagian selatan.”

Sebutan lain buat Orang Laut adalah Lanun (sekarang berarti perompak, bajak laut) atau Orang Selat.

Bahasa Orang Laut memiliki kemiripan dengan Bahasa Melayu. Saat ini mereka umumnya bekerja sebagai nelayan. Seperti suku Bajau Orang Laut terkadang dijuluki sebagai “kelana laut”, karena mereka hidup berpindah-pindah di atas perahu.

Secara historis, Orang Laut dulunya adalah perompak, namun berperan penting dalam Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Malaka dan Kesultanan Johor. Mereka menjaga selat-selat, mengusir bajak laut, memandu para pedagang ke pelabuhan Kerajaan-kerajaan tersebut, dan mempertahankan hegemoni mereka di daerah tersebut.

Pada zaman kejayaan Malaka, Orang Laut merupakan pendukung penting kerajaan maritim tersebut. Sewaktu Malaka jatuh mereka meneruskan kesetiaan mereka kepada keturunan sultan Malaka yang kemudian mendirikan Kesultanan Johor. Saat Belanda bermaksud menyerang Johor yang mulai bangkit menyaingi Malaka–yang pada abad ke-17 direbut Belanda atas –Sultan Johor mengancam untuk memerintahkan Orang Laut untuk menghentikan perlindungan Orang Laut pada kapal-kapal Belanda.

Pada 1699 Sultan Mahmud Syah, keturunan terakhir wangsa Malaka-Johor, terbunuh. Orang Laut menolak mengakui wangsa Bendahara yang naik tahta sebagai sultan Johor yang baru, karena keluarga Bendahara dicurigai terlibat dalam pembunuhan tersebut. Ketika pada 1718 Raja Kecil, seorang petualang Minangkabau mengklaim hak atas tahta Johor, Orang Laut memberi dukungannya. Namun dengan dukungan prajurit-prajurit Bugis Sultan Sulaiman Syah dari wangsa Bendahara berhasil merebut kembali tahta Johor. Dengan bantuan orang-orang Laut (orang suku Bentan dan orang Suku Bulang) membantu Raja Kecil mendirikan Kesultanan Siak, setelah terusir dari Johor.

Pada abad ke-18 peranan Orang Laut sebagai penjaga Selat Malaka untuk Kesultanan Johor-Riau pelan-pelan digantikan oleh suku Bugis.