Sang Nelayan

Kulit yang legam

lengan yang melepuh

Keringat yang asin

Matahari yang membakar

 

Mematah arang menuju ombak yang bergulung

dilepas kerinduan dan penantian

 

Sang Nelayan…

Setiap kayuhmu berdiri istana

Setiap langkahmu terbentang jalan

 

namun,..

kayuhmu, langkahmu, penghidupanmu, anakmu, istrimu,

dan mu, mu yang lainnya.

tetaplah nelayan

Peta Wilayah Kepulauan Riau

Provinsi Kepulauan Riau terbentuk berdasarkan Undang-Undang No. 25 Tahun 2002 dan pemerintahannya baru efektif berjalan sejak 1 Juli 2004 meliputi 4 ( empat ) Kabupaten dan 2 ( dua ) Kota yakni Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna dan Kabupaten Lingga serta Kota Tanjungpinang dan Kota Batam. Secara geografis Provinsi ini terletak pada posisi yang strategis yaitu berada pada dua jalur pelayaran internasional yang menghubungkan Samudera Hindia dan Laut Cina Selatan melalui Selat Malaka dan Selat Karimata dan berbatasan langsung dengan negara Singapura, Malaysia dan Thailand.

Provinsi ini merupakan salah satu dari 33 Provinsi di Indonesia yang memiliki letak geografis yang sangat strategis. Letak wilayah yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia, Singapura, Vietnam dan Thailand yang merupakan salah satu kawasan pertumbuhan ekonomi di dunia telah memberikan keunggulan komperatif terhadap perkembangan Provinsi Kepulauan Riau. Posisi Provinsi Kepulauan Riau juga menjadi semakin penting karena berada di jalur perdagangan international yaitu Selat Malaka. Baca selebihnya »

Suku Laut dan Sejarah

Suku Laut atau sering juga disebut Orang Laut adalah suku bangsa yang menghuni Kepulauan Riau, Indonesia. Secara lebih luas istilah Orang Laut mencakup “berbagai suku dan kelompok yang bermukim di pulau-pulau dan muara sungai di Kepulauan Riau-Lingga, Pulau Tujuh, Kepulauan Batam, dan pesisir dan pulau-pulau di lepas pantai Sumatera Timur dan Semenanjung Malaya bagian selatan.”

Sebutan lain buat Orang Laut adalah Lanun (sekarang berarti perompak, bajak laut) atau Orang Selat.

Bahasa Orang Laut memiliki kemiripan dengan Bahasa Melayu. Saat ini mereka umumnya bekerja sebagai nelayan. Seperti suku Bajau Orang Laut terkadang dijuluki sebagai “kelana laut”, karena mereka hidup berpindah-pindah di atas perahu.

Secara historis, Orang Laut dulunya adalah perompak, namun berperan penting dalam Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Malaka dan Kesultanan Johor. Mereka menjaga selat-selat, mengusir bajak laut, memandu para pedagang ke pelabuhan Kerajaan-kerajaan tersebut, dan mempertahankan hegemoni mereka di daerah tersebut.

Pada zaman kejayaan Malaka, Orang Laut merupakan pendukung penting kerajaan maritim tersebut. Sewaktu Malaka jatuh mereka meneruskan kesetiaan mereka kepada keturunan sultan Malaka yang kemudian mendirikan Kesultanan Johor. Saat Belanda bermaksud menyerang Johor yang mulai bangkit menyaingi Malaka–yang pada abad ke-17 direbut Belanda atas –Sultan Johor mengancam untuk memerintahkan Orang Laut untuk menghentikan perlindungan Orang Laut pada kapal-kapal Belanda.

Pada 1699 Sultan Mahmud Syah, keturunan terakhir wangsa Malaka-Johor, terbunuh. Orang Laut menolak mengakui wangsa Bendahara yang naik tahta sebagai sultan Johor yang baru, karena keluarga Bendahara dicurigai terlibat dalam pembunuhan tersebut. Ketika pada 1718 Raja Kecil, seorang petualang Minangkabau mengklaim hak atas tahta Johor, Orang Laut memberi dukungannya. Namun dengan dukungan prajurit-prajurit Bugis Sultan Sulaiman Syah dari wangsa Bendahara berhasil merebut kembali tahta Johor. Dengan bantuan orang-orang Laut (orang suku Bentan dan orang Suku Bulang) membantu Raja Kecil mendirikan Kesultanan Siak, setelah terusir dari Johor.

Pada abad ke-18 peranan Orang Laut sebagai penjaga Selat Malaka untuk Kesultanan Johor-Riau pelan-pelan digantikan oleh suku Bugis.

Kepemimpinan

Jika memerintah dengan lemah lembut; Kepada tempat barang yang patut; Orang pun banyak suka mengikut; Apa kehendak tiada tersangkut. (Raja Ali Haji, Syair Nasehat).

SANG WAPRES DAN MBOK JAMU

H.M. Jusuf Kalla, pada tanggal 7 sampai 8 Februari 2008 telah mejadi daya tarik masyarakat Kepulauan Riau, sosok yang saat ini sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia dan sekaligus Ketua Umum Partai Golkar melakukan kunjungan kenegaraan di Bumi Melayu Kepulauan Riau. Telah menjadi rahasia umum setiap kedatangan orang penting (Wapres) senantiasa menggunakan Protap (prosedur tetap), maka tidak heran jika salah satu pesawat komersil Indonesia tujuan Hang Nadim harus dialihkan pendaratannya ke Bandara Sultan Syarif Kasim II disebabkan dalam waktu bersamaan pesawat Wapres RI mendarat di Bandara Hang Nadim.

 

Kegiatan pertama Sang Wapres (baca ; H.M Jusuf Kalla) melakukan silaturrahmi dengan kader Partai Golkar Se-Kepri dan tokoh – tokoh masyarakat Kepulauan Riau di Hotel Novotel Batam, tentulah ruangan tersebut telah dijaga pasukan pengaman wakil presiden (Paspamwapres) dengan terlebih dahulu melakukan sterilisasi ruangan. Tepat pukul 20.00 Wib, Sang Wapres memasuki ruangan pertemuan dengan didampingi oleh Sang Gubernur (Baca ; Ismeth Abdullah) beserta anggota DPD RI yang juga Ketua Umum PKK Provinsi Kepri. Di ruangan tersebut telah menunggu sejumlah pejabat teras se-Provinsi Kepri seperti Wakil Gubernur Kepri (H.M Sani), Sekretaris Daerah Kepri (Edi Wijaya), Walikota Tanjungpinang (Suryatati A Manan), Bupati Karimun (Nurdin Basirun), Walikota Batam (Ahmad Dahlan) dan tentu Bupati Bintan yang sekaligus Ketua DPD I Partai golkar Kepri (Ansar Ahmad), disamping itu ketua – ketua DPRD Se-Kepri hadir untuk mengikuti pertemuan tersebut, sementara Bupati Natuna (Daeng Rusnadi) tidak hadir dikarenakan sedang melakukan persiapan untuk kunjungan Sang Wapres di Kabupaten Natuna. Baca selebihnya »